PROKAL.CO, SAMARINDA – Cenderung stabilnya pasokan di Kaltim menjadi pemicu terjadinya deflasi atau penurunan harga bahan pangan di daerah ini pada bulan lalu. Meski begitu, Bank Indonesia menyatakan, pengawalan ketat terhadap distribusi dan upaya menggenjot produksi di dalam daerah, tetap menjadi fokus untuk menahan lonjakan harga ke depan. BPS melaporkan, Kaltim mencatatkan deflasi 0,04 persen pada Februari lalu. Penurunan indeks harga paling besar disebabkan kelompok bahan pangan. Sedangkan kelompok pengeluaran lain seperti transportasi, sandang, perumahan, dan hiburan, masih mencatatkan inflasi. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhammad Nur mengatakan, laju inflasi pada Februari tahun ini masih sesuai pola historis lima tahun terakhir. “Secara tahunan tercatat inflasi Kaltim pada Februari sebesar 3,39 persen,” ujarnya kepada Kaltim Post Kamis (2/3). Jika dilihat lebih dalam, tingkat inflasi secara tahunan kedua kota tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan inflasi historis pada bulan yang sama. Dilihat pembentuknya, kelompok pangan menjadi pendorong deflasi tertinggi bulan ini. Akibat penurunan harga pada komoditas daging ayam ras, ikan layang atau benggol dan kacang panjang. “Sementara itu, kelompok administered price, inflasi justru terjadi pada tarif listrik, akibat penyesuaian tarif subsidi pada pelanggan 900 VA,” tuturnya. Melihat tantangan inflasi 2017, dia menyebut, diperlukan koordinasi dan kerja sama yang intensif antara pihak-pihak terkait untuk memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan pokok. Juga penyediaan infrastruktur dan sarana logistik yang lebih baik, serta didukung komunikasi efektif kepada masyarakat. Selain itu, keterlibatan aparat hukum dalam komunikasi yang efektif kepada masyarakat. Sedangkan dari sisi hulu, upaya peningkatan kapasitas produksi bahan pangan dari wilayah Kaltim guna mengurangi ketergantungan akan pasokan dari daerah lain. “Menyikapi kondisi tersebut dan risiko ke depan, kami maupun pemerinah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), senantiasa terus memperkuat koordinasi dalam stabilisasi harga akan terus dioptimalkan dengan melibatkan berbagai stakeholders terkait. Hal ini merupakan salah satu langkah utama untuk mengendalikan inflasi agar tepat sasaran sesuai dengan target inflasi 2017 sebesar 4±1 persen (yoy),” ujarnya. Sementara itu, KPw-BI Balikpapan memperkirakan, pencapaian inflasi tahun ini akan menghadapi beberapa tantangan. Beberapa faktor yang diperkirakan akan menyumbang tekanan inflasi ke depan. Di antaranya, kebijakan kenaikan tarif listrik tahap II dan III pada Maret dan Mei 2017 nanti, banjir di beberapa sentra produksi yang diperkirakan akan mengganggu panen, curah hujan yang masih tinggi diperkirakan sampai Mei 2017 mendatang dan permasalahan tata niaga khususnya untuk komoditas pangan umum. “Selanjutnya, Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah daerah dan instansi lainnya untuk mempersiapkan langkah-langkah antisipatif dan program inovatif. Agar target inflasi Balikpapan dapat kembali menyasar pada kisaran 5±1 persen,” ucap Manajer Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan KPw-Bank Indonesia Andi Aditianing Palupi. (*/ctr/man/k18)
Sebarkan Berita Ini
Berita Terkini
Kalender Kejadian 2016

05
Jan
Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau, periode 6-12 Januari 2021, mengalami penurunan pada setiap kelompok umur kelapa sawit, dengan jumlah penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 10 - 20 tahun sebesar Rp5,78 per kg.
05
Jan
Kementerian Pertanian telah menerbitkan Permentan 49/2020 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2021. Dalam peraturan tersebut, harga pupuk urea yang semula Rp1800/kg, naik Rp450 menjadi Rp2.250/kg, lalu pupuk SP-36 dari HET Rp2.000/kg naik Rp400 sehingga menjadi Rp2.400/kg.
05
Jan
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali I Wayan Jarta mengatakan perolehan margin untuk distribusi cabai merah pada tahun ini kemungkinan juga tidak akan besar. Pasalnya, cabai merah merupakan komoditas yang tergolong unik dibandingkan produksi pertanian Bali lainnya. Cabai merah tidak mengenal sistem stok dan distribusinya tergolong cepat.
05
Jan
Zona merah alias daerah berisiko tinggi penularan Covid-19 di Jawa Tengah tersisa sebanyak sembilan daerah, yakni Brebes, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota Pekalongan, Rembang, Semarang, Temanggung, Kendal, dan Kebumen.
04
Jan
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyebutkan harga cabai menjadi penyumbang inflasi terbesar di DKI Jakarta pada Desember 2020. Pada bulan Desember, andil cabai penyebab inflasi sebesar 0,05 persen dari total inflasi 0,26 persen, tingginya harga cabai merah biasa terjadi pada musim hujan, selain adanya momen Hari Raya Natal dan Tahun Baru yang menyebabkan konsumsi cabai merah lebih tinggi dari biasanya.
Biro Humas dan Protokol Setda Prov. Kaltim
Jl. Gadjah Mada No. 2 Samarinda
Telepon+62 541 733333 Ps. 164, 160
Fax+62 541 7443048
emailhumas@kaltimprov.go.id
Copyright © 2016 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.